Motto Hari Ini
Waktu Kini: :

WAKTU SHALAT, Kamis, 21 10 2021 Oktober 2021 >

Diterbitkan :
Kategori : ARTIKEL AGAMA
Komentar : 0 komentar

Salah satu bagian dari beriman kepada Allah, adalah mengetahui dan hafal terhadap sifat-sifat Allah. Sifat-sifat ini disebut sifat wajib bagi Allah. Bukan karena kita mewajibkan Allah memiliki sifat tersebut, tapi dikarenakan sifat-sifat tersebut dipastikan ada pada Allah berdasar al-Qur’an dan hadis. Sehingga meyakini kebenaran sifat-sifat ini sama saja meyakini ajaran yang disampaikan al-Qur’an dan hadis.

Rumusan-rumusan ini mulanya disampaikan oleh beberapa ulama’, antara lain Abu Manshur al-Maturidi dan Abu Hasan al-As’ari. Rumusan ini bukanlah hal baru apalagi aliran baru, dalam artian tidak dikenal di zaman para sahabat, tabi’in serta salafus salih. Rumusan ini adalah yang diyakini oleh para sahabat serta salafus salih. Hanya saja diperjelas uraiannya oleh ulama’ seperti Imam al-Maturidi dan Imam al-As’ari, agar mudah difahami. Dan rumusan ini kemudian disetujui oleh ulama’-ulama’ terkemuka setelahnya. Seperti Imam Nawawi, Imam al-Ghazali dan ulama’ terkemuka lainnya.

Berikut ini adalah 20 sifat wajib Allah beserta penjelasannya:

  1. Sifat wujud, yang artinya Allah ada. Keberadaan alam semesta ini menunjukkan keberadaan penciptanya, yaitu Allah. Kebalikannya adalah sifat ‘adam, yang artinya Allah tidak ada.
  2. Sifat qidam, yang artinya Allah maha dahulu atau tidak ada sesuatupun yang mendahului Allah. Allah tidaklah diciptakan, sehingga tidak didahului oleh penciptanya. Allah juga tidak seperti manusia, yang dahulunya tidak ada, kemudian ada lewat proses seperti dilahirkan. Kebalikannya adalah sifat hudus, yang artinya dahulunya tidak ada dan kemudian ada, layaknya manusia.
  3. Sifat baqa’, yang artinya Allah abadi. Allah tidak akan mengalami kehancuran seperti layaknya ciptaan. Kebalikannya adalah sifat fana’, yang artinya mengalami kehancuran.
  4. Sifat mukhalafatu lil hawadisi, yang artinya Allah tidaklah sama dengan makhluk atau ciptaan. Allah tidaklah makan dan minum seperti manusia. Tidak juga dilahirkan atau kelak akan mati. Kebalikannya adalah sifat mumatsalatu lil hawadisi, atau sama dengan makhluk.
  5. Sifat qiyamuhu binafsihi, atau Allah berdiri sendiri. Allah tidak membutuhkan apapun dan siapapun. Allah tidak membutuhkan tempat atau orang lain. Allah tidak seperti manusia yang membutuhkan manusia lain untuk memenuhi kebutuhannya. Kebalikannya adalah sifat ihtiyajun lighairihi, atau butuh pada selain dirinya sendiri.
  6. Sifat wahdaniyah, atau Allah satu dan tidak memiliki sekutu. Allah satu, tidak ada tuhan ayah, ibu maupun anak. Kebalikannya adalah sifat ‘adad, atau lebih dari satu.
  7. Sifat qudrah, atau Allah berkuasa. Kuasa menjadikan segala sesuatu tanpa batas. Kebalikannya adalah sifat ‘ajz, atau lemah.
  8. Sifat iradah, atau Allah berkehendak. Allah berkehendak untuk mentaqdirkan segala sesuatu. Kebijakan Allah tidak dipaksa oleh siapapun. Kebalikannya adalah memiliki sifat karahah, yang artinya terpaksa.
  9. Sifat ‘Ilmun, atau Allah Maha Mengetahui. Pengetahuan Allah tidak memiliki batas. Kebalikannya adalah sifat jahlun, atau bersifat bodoh.
  10. Sifat hayyan, atau Allah Maha Hidup. Kebalikannya adalah mayyitun, atau bersifat mati.
  11. Sifat sam’an, atau Allah Maha Mendengar. Allah mendengar segala sesuatu, bahkan apa yang tidak bisa manusia dengar. Kebalikannya adalah sifat shamamun, atau tuli.
  12. Sifat bashar, atau Allah Maha Melihat. Allah dapat melihat segala sesuatu. Bahkan yang tidak dapat dijangkau manusia. Kebalikannya adalah sifat ‘ama, atau buta.
  13. Sifat kalam, atau Allah Maha Berbicara. Kebalikannya adalah sifat bakmu, atau bisu.
  14. Sifat qaadiran, atau Allah Dzat Yang Berkuasa. Kebalikannya, ‘aajizan atau dzat yang lemah.
  15. Sifat muriidan, atau Allah Dzat Yang Berkehendak. Kebalikannya, kaarihan atau dzat yang terpaksa.
  16. Sifat ‘aaliman, atau Allah Dzat Yang Mengetahui. Kebalikannya, jaahilan atau dzat yang bodoh.
  17. Sifat hayyan, atau Allah Dzat Yang Hidup. Kebalikannya, mayyitan atau dzat yang mati.
  18. Sifat saami’an, atau Allah Dzat Yang Mendengar. Kebalikannya, ashammu atau dzat yang tuli.
  19. Sifat bashiiran, atau Allah Dzat Yang Melihat. Kebalikannya, a’ma atau dzat yang buta.
  20. Sifat mutakalliman, atau Allah Dzat Yang Berbicara. Kebalikannya, abkamu atau dzat yang bisu.

Selain 20 sifat wajib, Allah juga memiliki 1 sifat jaiz, yang artinya sifat yang bisa dilakukan oleh Allah ataupun ditinggalkan. Yaitu sifat “melakukan segala sesuatu yang mungkin terjadi, atau tidak melakukannya”. Mungkin ini maksudnya tidak bertentangan dengan keterangan al-Qur’an dan hadis. Contoh sifat jaiz Allah adalah, Allah bisa saja memberi rizki kita 1 milyar tanpa dapat diperkirakan seperti apa caranya. Dan Allah bisa juga tidak melakukannya.

Keduapuluh satu sifat ini, bersama sifat rasul yang ada Sembilan, penting untuk difahami dan dihafal. Karena dengan memahami serta menghafal, cara pandang kita dalam menyikapi segala sesuatu akan sesuai dengan ajaran Islam. Satu contoh kecil, orang yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi, tidak akan lantas putus asa atau memberanikan diri untuk mencuri lantaran ia meyakini hanya dengan akalnya, ia tidak akan memperoleh rizki. Bila ia memahami betul sifat qudrah atau kuasa Allah, dan kuasa Allah tidak terbatas sehingga bisa saja Allah memberi rizki lewat jalan yang tidak terduga, ia akan tetap bertawakkal. Serta berjuang sekuat tenaga tanpa ada rasa putus asa.

Sumber:  Islami.co

SebelumnyaTeks Kitab Al-Hikam, Beserta Syarahnya
20 Sifat Allah yang Perlu Dihafalkan dan Dipahami
Salah satu bagian dari beriman kepada Allah, adalah mengetahui dan hafal terhadap sifat-sifat Allah. Sifat-sifat ini disebut sifat wajib bagi Allah. Bukan karena kita mewajibkan Allah memiliki sifat tersebut, tapi...
Teks Kitab Al-Hikam, Beserta Syarahnya
KITAB AL-HIKAM Karya Syaikh Ibnu ‘Athoillah As-sakandariy MUQODDIMAH بسم الله الرحمن الرحيم Segala puji bagi Allah, Tuhan yang mengisi [memenuhi] hati para wali [kekasih]-Nya dengan kasih sayang-Nya. Mengistimewakan jiwa mereka...
Sejarah Setiap Akhir Khutbah Jumat Khatib Membaca QS Surah An-Nahl 90
Pada tahun 717 M/99 H seorang penguasa Muslim yang kekuasaannya terbentang dari Kufah hingga Semenanjung Spanyol dan Afrika Utara bernama Umar bin ‘Abdul ‘Azîz (682-720 M/63-101 H) mengirim surat kepada...
Pemikiran Pascapandemi, Kebangkitan Pasca-Covid-19
Kita perlu melakukan penilaian sendiri (self-appraisal) secara jujur. Jangan mengecoh diri dengan rekayasa pencitraan yang membesar-besarkan pencapaian kecil. Kita bisa belajar dari pengalaman sejarah bangsa sendiri. Kebangkitan acap kali bertolak...
Strategi Dakwah Rasulullah Saw pada Era Berada di Madinah
Madinah menjadi sebuah ruang dakwah baru bagi Rasulullah SAW, setelah dakwah di Mekah terasa sempit bagi dakwah Rasulullah SAW dan umat Islam pada waktu itu. Berawal dari respon orang-orang Yatsrib...
Strategi Dakwah Rasulullah SAW pada Era Berada di Mekah
Nabi Muhammad SAW yang lahir di Mekkah dengan membawa misi mendakwahkan ajaran Islam mendapat tantangan yang berat dan menyakitkan. Kultur masyarakat yang ada pada waktu itu menganut keyakinan Paganisme (suatu...


TINGGALKAN KOMENTAR