Motto Hari Ini
Waktu Kini: :

WAKTU SHALAT, Kamis, 21 10 2021 Oktober 2021 >

Diterbitkan :
Kategori : ARTIKEL AGAMA
Komentar : 0 komentar

Kecanggihan teknologi berupa aplikasi Al-Qur’an tak akan mampu menggantikan posisi para guru pengajar Al-Qur’an. Syekh al-Dhabba berkata bahwa belajar Al-Qur’an harus dengan ber-talaqqi (ketemu langsung) dan musyafahah (mengikuti gerak-gerik bibir) sang guru dalam melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Dalam kitab Al-Natsr Fi Al-Qiraat Al-‘Asyr Juz 1 halaman 210-211, Syekh al-Dhabba’ menyampaikan bahwa sekalipun sudah ada mushaf yang dapat dipertanggungjawabkan (al-madhbutah) akan tetapi tidak ada dasarnya orang belajar Al-Qur’an tanpa guru. Oleh sebab itu beliau berpendapat tidak boleh belajar Al-Qur’an tanpa didampingi ulama yang ahli qiraatul Qur’an.

Nabi Muhammad saw saja setiap bulan Ramadhan selalu diminta Malaikat Jibril agar sorogan dengan cara mengulang kembali bacaan-bacaan ayat Al-Qur’an yang sudah sampai ke beliau. Padahal Rasulullah SAW adalah orang pertama sekaligus maha guru di bidang Al-Qur’an. Sekalipun demikian beliau selalu ber talaqqi dengan malaikat Jibril.

Begitu pula pencatat Al-Qur’an di masa Rasulullah, yaitu Zaid b. Tsabit. Dalam kitab al-Itqan fi Ulumum Al-Qur’an, halaman 59-60 disebutkan bahwa walaupun Zaid b. Tsabit merupakan penghapal Al-Qur’an akan tetapi pada saat mencatat ayat Al-Qur’an beliau selalu ber-talaqqi kepada Rasulullah Saw dan selalu dicocokkan dengan sahabat-sahabat lain yang sama-sama dikenal sebagai pencatat Al-Qur’an.

Nabi Muhammad Saw juga pernah bersabda: ambillah (ikutilah) bacaan dari 4 orang, yaitu: Ibn ummi Abd (Abdullah b. Umar), Mu’adz b. Jabal, Ubay b. Kaab, dan Salim maula Abi Hudaifah (HR. Bukhari dan Muslim). Imam Nawawi menjelaskan bahwa keempat tokoh ini direferensikan dalam bacaan Al-Qur’an sebab lebih fasih dan lebih meyakinkan sebab keempatnya belajar secara musyafahah kepada Rasulullah saw.

Berdasarkan keterangan itu, Abu Abdullah b. Abdussalam b. Ali dalam kitab al-Murayid al-Amiin Li al-Raghibin fi Hifd Al-Qur’an al-Adzim, halaman 185 menjelaskan bahwa orang yang belajar Al-Qur’an tanpa berguru berlebih dulu maka dia bertanggung jawab atas dosa yang disebabkan kesalahannya di dalam membaca Al-Qur’an.

Dengan nada sindiran, Imam Ashim seorang ahli qiraatul Qur’an juga bernah berkata kepada seseorang yang biasa membaca Al-Qur’an tetapi dia belum pernah berguru kepada ahli qiraat Al-Qur’an: “Aku tidak mendengar sama sekali dari mulutmu satupun huruf Al-Qur’an!”

Peringatan serupa juga disampaikan Imam Nafi’ kepada pemuda yang baru belajar kepadanya. Beliau berpesan:… Bacaan Qur’an kita pada dasarnya merupakan bacaan para guru-guru kita. Kita mendengar langsung dari mereka. Kita jangan sampai membaca Al-Qur’an mengikuti nalar logika kita.

Selanjutnya Imam Nafi’ membaca ayat 88 Surat al-Isra’, yang seolah-olah beliau menyamakan pembaca Al-Qur’an tanpa bimbingan guru diumpamakan sekelompok manusia dan jin yang ingin membuat tandingan Al-Qur’an. Na’uzdubillah min zdalik!

Pada dasarnya belajar Al-Qur’an diharuskan lewat guru karena alasan yang masuk akal:

Pertama, dalam ilmu Al-Qur’an terdapat ilmu tajwid untuk memaksimalkan bacaan Al-Qur’an

Kedua, model bacaan Al-Qur’an yang disepakati ulama adalah hasil ijma’ ulama ahli tajwid.

Ketiga, membaca Al-Qur’an sesuai bacaan guru yang ahli Al-Qur’an pada dasarnya berusaha memaksimalkan tajwid Al-Qur’an yang telah disepakati dari semenjak ulama salafus shalih hingga ulama di masa sekarang.

Referensi: M. ISHOM EL-SAHA; Alif.id

https://alif.id/read/muhammad-ishom/bahaya-belajar-al-quran-tanpa-guru-rasulullah-saja-berguru-b230812p/

SebelumnyaApa Arti Empat Bulan Haram? SesudahnyaCara Menafsirkan Qur'an
20 Sifat Allah yang Perlu Dihafalkan dan Dipahami
Salah satu bagian dari beriman kepada Allah, adalah mengetahui dan hafal terhadap sifat-sifat Allah. Sifat-sifat ini disebut sifat wajib bagi Allah. Bukan karena kita mewajibkan Allah memiliki sifat tersebut, tapi...
Teks Kitab Al-Hikam, Beserta Syarahnya
KITAB AL-HIKAM Karya Syaikh Ibnu ‘Athoillah As-sakandariy MUQODDIMAH بسم الله الرحمن الرحيم Segala puji bagi Allah, Tuhan yang mengisi [memenuhi] hati para wali [kekasih]-Nya dengan kasih sayang-Nya. Mengistimewakan jiwa mereka...
Sejarah Setiap Akhir Khutbah Jumat Khatib Membaca QS Surah An-Nahl 90
Pada tahun 717 M/99 H seorang penguasa Muslim yang kekuasaannya terbentang dari Kufah hingga Semenanjung Spanyol dan Afrika Utara bernama Umar bin ‘Abdul ‘Azîz (682-720 M/63-101 H) mengirim surat kepada...
Pemikiran Pascapandemi, Kebangkitan Pasca-Covid-19
Kita perlu melakukan penilaian sendiri (self-appraisal) secara jujur. Jangan mengecoh diri dengan rekayasa pencitraan yang membesar-besarkan pencapaian kecil. Kita bisa belajar dari pengalaman sejarah bangsa sendiri. Kebangkitan acap kali bertolak...
Strategi Dakwah Rasulullah Saw pada Era Berada di Madinah
Madinah menjadi sebuah ruang dakwah baru bagi Rasulullah SAW, setelah dakwah di Mekah terasa sempit bagi dakwah Rasulullah SAW dan umat Islam pada waktu itu. Berawal dari respon orang-orang Yatsrib...
Strategi Dakwah Rasulullah SAW pada Era Berada di Mekah
Nabi Muhammad SAW yang lahir di Mekkah dengan membawa misi mendakwahkan ajaran Islam mendapat tantangan yang berat dan menyakitkan. Kultur masyarakat yang ada pada waktu itu menganut keyakinan Paganisme (suatu...


TINGGALKAN KOMENTAR