Motto Hari Ini
Waktu Kini: :

WAKTU SHALAT, Kamis, 21 10 2021 Oktober 2021 >

Diterbitkan :
Kategori : ARTIKEL AGAMA
Komentar : 0 komentar

Kematian merupakan keniscayaan bagi setiap makhluk hidup. Kematian di dunia menjadi awal kehidupan baru, dimulai alam kubur hingga alam akhirat, yaitu kehidupan yang lebih baik dan kekal.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ  

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan” (QS. Al-Anbiya[21]: 35).  

Ketika manusia telah menyadari bahwa hidup dan mati merupakan bentuk ujian, maka hanya persiapanlah sikap terbaik untuk menghadapinya.

Sebagaimana anak sekolah, ketika mendekati ujian maka sudah sepatutnya segala upaya dilakukan untuk mendapatkan hasil ujian terbaik. Setidaknya dapat lolos menuju jenjang yang lebih tinggi.

Rasulullah ﷺ menyeru kepada umatnya agar memperbanyak mengingat kematian. Karena dengan mengingat kematian hidup akan lebih berhati-hati.

Jika sudah sampai pada mati, maka kenikmatan dunia seakan tiada berguna lagi bagi manusia. Namun demikian, mengingat mati bukan suatu yang mudah. Kenyataannya masih saja ada para pentakziyah yang tertawa terbahak-bahak di tengah suasana duka menyelimuti keluarga yang ditinggal.

Salah satu gambaran kematian yang ada di sekitar kita adalah “tidur”.

Dalam kitab Jawahirul Kalamiyah karya Syaekh Thahir dijelaskan bahwa keadaan di alam kubur adalah sesuatu yang ghaib. Sehingga sulit dimengerti oleh manusia pada umumnya.

Untuk memudahkan hal tersebut, kematian dapat dianalogikan dengan tidur. Ketika seseorang tidur maka orang-orang di sekitarnya tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi di alam mimpinya.   Kesamaan tidur dan mati dapat ditelaah dari doa bengun tidur sebagai berikut:

الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ  

“Segala puji bagi Allah dzat yang telah menghidupkan setelah mematikan kami, dan kepa-Nya tempat kembali.”   Kata أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا menunjukkan bahwa tidur memiliki kesamaan dengan kematian. sehingga tersebut dalam doa bangun tidur adalah Allah yang telah menghidupkan setelah mematikan (menidurkan).  

Doa lain sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ:

الحمد لله الذي رَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ وَعَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ  

“Segala puji bagi Allah dzat yang mengembalikan ruh ku, memberikan kesehatan badanku, dan mengizikanku berdzikir kepada-Nya” (Imam Nawawi, Al-Adzkar, hal. 21).  

Statemen mengembalikan ruhku menunjukkan bahwa persamaan tidur dan mati adalah sama-sama ruh keluar dari jasad. Bedanya ketika tidur ruh dapat kembali sedangkan mati tidak.

Penjelasan ini sekaligus memperkuat pernyataan di atas, dapat dilihat dalam kitab Duratun Nashihin bahwa manusia memiliki tiga ruh, yakni ruh sulthaniyah, ruhaniyah, dan jasmaniyah.

Ruh sulthaniyah bertempat di hati, ruhaniyah di dada, sedangkan ruh jasmaniyah di antara daging dan darah, antara tulang dan otot.  

Pada potongan pernyataan selanjutnya disebutkan bahwa ketika seseorang tidur maka keluarlah ruh jasmaniyahnya bersamaan dengan akal. Kemudian berjalan di antara langit dan bumi. Terkadang ada mimpi dapat dipahami, hal ini berarti akal berperan di dalamnya. Sebaliknya mimpi yang tidak dapat dimengerti, berarti akal tidak berperan di dalamnya (Syekh ‘Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir, Duratun Nashihin, Semarang: Toha Putra, hal. 145). 

Berangkat dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa sebenarnya manusia sudah merasakan sebagian dari tanda kematian.

Oleh karenanya setiap bangun tidur harus selalu bersyukur karena masih diberikan kesempatan hidup oleh Allah ﷻ.

Selain itu manusia selalu belajar dari tidur agar selalu ingat akan kematian sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah ﷺ.

Wallahu a’lam.    

Sumber: Jaenuri. https://islam.nu.or.id/post/read/117644/persamaan-tidur-dan-mati

SebelumnyaBimbingan Mewujudkan Tidur Berkualitas dalam Kitab Bidâyah al-Hidâyah SesudahnyaMaksud Hadits ‘Tidur Orang Berpuasa adalah Ibadah’
20 Sifat Allah yang Perlu Dihafalkan dan Dipahami
Salah satu bagian dari beriman kepada Allah, adalah mengetahui dan hafal terhadap sifat-sifat Allah. Sifat-sifat ini disebut sifat wajib bagi Allah. Bukan karena kita mewajibkan Allah memiliki sifat tersebut, tapi...
Teks Kitab Al-Hikam, Beserta Syarahnya
KITAB AL-HIKAM Karya Syaikh Ibnu ‘Athoillah As-sakandariy MUQODDIMAH بسم الله الرحمن الرحيم Segala puji bagi Allah, Tuhan yang mengisi [memenuhi] hati para wali [kekasih]-Nya dengan kasih sayang-Nya. Mengistimewakan jiwa mereka...
Sejarah Setiap Akhir Khutbah Jumat Khatib Membaca QS Surah An-Nahl 90
Pada tahun 717 M/99 H seorang penguasa Muslim yang kekuasaannya terbentang dari Kufah hingga Semenanjung Spanyol dan Afrika Utara bernama Umar bin ‘Abdul ‘Azîz (682-720 M/63-101 H) mengirim surat kepada...
Pemikiran Pascapandemi, Kebangkitan Pasca-Covid-19
Kita perlu melakukan penilaian sendiri (self-appraisal) secara jujur. Jangan mengecoh diri dengan rekayasa pencitraan yang membesar-besarkan pencapaian kecil. Kita bisa belajar dari pengalaman sejarah bangsa sendiri. Kebangkitan acap kali bertolak...
Strategi Dakwah Rasulullah Saw pada Era Berada di Madinah
Madinah menjadi sebuah ruang dakwah baru bagi Rasulullah SAW, setelah dakwah di Mekah terasa sempit bagi dakwah Rasulullah SAW dan umat Islam pada waktu itu. Berawal dari respon orang-orang Yatsrib...
Strategi Dakwah Rasulullah SAW pada Era Berada di Mekah
Nabi Muhammad SAW yang lahir di Mekkah dengan membawa misi mendakwahkan ajaran Islam mendapat tantangan yang berat dan menyakitkan. Kultur masyarakat yang ada pada waktu itu menganut keyakinan Paganisme (suatu...


TINGGALKAN KOMENTAR