Motto Hari Ini
Waktu Kini: :

WAKTU SHALAT, Kamis, 21 10 2021 Oktober 2021 >

Diterbitkan :
Kategori : SEJARAH - BIOGRAFI
Komentar : 0 komentar

Baginda memiliki budi pekerti yang paling mulia, berdakwah dengan selembut-lembut cara, walaupun dicaci tetap berkelakuan baik, bahkan terhadap mereka yang tidak mengikuti baginda.

Kisah kehidupan baginda perlu dijadikan teladan dan dicontohi oleh semua umat manusia

Ramai orang yang percaya bahwa sebelum baginda menghembuskan nafas terakhir, baginda menyebut “Ummati, ummati, ummati” yang bermaksud “Umatku, umatku, umatku”, namun, ini adalah tidak benar, yang diucapkan oleh baginda adalah kalimah lain.

Sebelum kita mengetahui apa perkataan yang diucapkan oleh Rasulullah, perlu kita tahu peristiwa pada saat terakhir kekasih Allah sebelum menemui Penciptanya.

Rasulullah SAW berbisik kepada putrinya yang bernama Fatimah

Menurut al-Rahiq al-Makhtum yang ditulis oleh Syeikh Safiy al-Rahman al-Mubarakfuri, berikut adalah keadaan saat-saat terakhir Nabi Muhammad S.A.W:

Ketika waktu dluha semakin meninggi, Fatimah R.A dipanggil oleh Rasulullah SAW dan dibisiki sesuatu di telingnya. Mendengar bisikan tersebut, puteri baginda itu pun menangis.

Fatimah sekali lagi dipanggil baginda dan dibisiki lagi sesuatu di telinganya.

Tetapi kali ini, Fatimah tertawa.

Aisyah R.A, istri beliau, yang mendengar lantas bertanya tentang perkara itu dan dijawab Fatimah dengan berkata:

“Aku dibisiki oleh Rasulullah S.A.W bahwa baginda akan wafat dengan sakit yang sedang dihadapinya, hal itu membuatku menangis. Namun kemudian baginda sekali lagi berbisik kepadaku bahwa akulah anggota keluarganya yang pertama yang akan menyusul setelah baginda wafat”.

Rasulullah SAW juga menggembirakan hati puterinya itu dengan memberitahu bahwa dia adalah penghulu wanita di seluruh alam.

Ketika Fatimah sedang menyaksikan penderitaan yang ditanggung ayahandanya, dia pun berkata: “Alangkah menderita Ayahanda,”.

Baginda kemudian berkata kepada Fatimah, “Selepas hari ini, tidak ada lagi penderitaan pada diri ayahandamu”.

Tak lama selepas itu, Rasulullah SAW memanggil dua orang cucu kesayangan baginda, yaitu Hasan dan Husain, lantas berpesan kepada mereka dengan kebaikan.

Kemudian para isteri baginda pun dipanggil, nasihat serta peringatan pun diberikan.

Disebabkan sakit yang dirasakan baginda semakin kuat akibat efek racun daging kambing yang dimakan baginda di Khaibar, baginda berkata: “Wahai Aisyah, aku masih merasakan efek makanan yang aku makan dari Khaibar, aku sekarang ini merasakan seperti urat leherku hendak terputus akibat racun ini,”.

Kemudian Rasullah S.A.W bersandar pada Aisyah, menandakan saat-saat paling akhir kehidupan baginda di dunia.

Kemudian, Abdurrahman bin Abu Bakar masuk dengan kayu sugi di tangannya.

Kayu sugi yang dipegang Abdurrahman dipandang oleh baginda dan Aisyah menyadari hal itu lalu bertanya kepada Rasulullah S.A.W: “Maukah aku dapatkan kayu sugi untukmu?”

Dengan isyarat kepala oleh baginda, Aisyah pun mengambil sebatang kayu sugi dan diberikan kepada baginda. Akan tetapi, kayu sugi tersebut agak keras dan lalu Aisyah pun bertanya: “Maukah engkau kayu sugi itu aku lembutkan untukmu?”.

Sekali lagi baginda memberikan isyarat menggunakan kepala, lalu kayu sugi itu dilembutkan Aisyah dan Rasulullah S.A.W meminta agar baginda disugi.

Satu riwayat lain mengatakan bahwa Rasulullah S.A.W bersugi dengan cara yang lebih baik daripada sebelum ini.

Baginda kemudian mencelupkan tangan ke dalam bekas air yang dihadapkan kepada baginda lalu disapu pada muka dengan berkata:

“Tidak ada Tuhan selain Allah, sesungguhnya bagi kematian itu ada rasa sakit”.

Setelah baginda selesai bersugi, Rasulullah SAW mengangkat tangan atau jari baginda, lalu mendongak ke atas diikuti dengan bibir yang bergerak-gerak.

Melihat itu, Aisyah kemudian mendekatkan telinganya dengan mulut baginda karena ingin mendengar lebih jelas yang Rasulullah SAW ucapkan:

مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي، وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الأَعْلَى اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الأَعْلَى

Artinya: “Bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka dari kalangan para nabi, orang-orang yang benar (orang yang beriman), orang-orang syahid dan orang-orang shaleh. Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku serta pertemukan aku dengan Teman Yang Tertinggi, Ya Allah, Kekasih Yang Tertinggi.”

Kalimah ini diulangi oleh Rasulullah S.A.W sebanyak tiga kali, sebelum tangan baginda terkulai layu yang menandakan bahwa manusia terhebat di dunia telah pergi meninggalkan kita di dunia ini selama-lamanya untuk menghadap Kekasih Yang Tertinggi.

(Al-Rahiq Al-Makhtum, halaman 430-432)

Perkataan dan ucapan Rasulullah SAW sebelum menghembuskan nafas terakhir ini diceritakan di dalam beberapa teks atau matan hadits.

Diantaranya adalah:

Dari ‘Aisyah dan Abdullah bin Abbas Radliyallahu Anhuma, berkata:

لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ، فَإِذَا اغْتَمَّ كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ، وَهُوَ كَذَلِكَ يَقُولُ: لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى اليَهُودِ، وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Artinya: “Apabila turun wahyu kepada Rasulullah SAW, Baginda SAW memegang bajunya sambil menutup secarik kain ke wajahnya dan saat beliau beliau mula merasa sesak, kami pun membukanya. Lalu Rasulullah SAW bersabda: Laknat Allah ke atas orang Yahudi dan Nasrani yang mana mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid.” [Riwayat al-Bukhari, 4443)

Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini di dalam bab sakit dan kewafatan Nabi Muhammad SAW.

Dari Aisyah Radliyallahu Anha berkata:

فَكَانَتْ آخِرَ كَلِمَةٍ تَكَلَّمَ بِهَا: اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الأَعْلَى

Artinya: “Adapun ucapan terakhir yang diucapkan oleh Baginda SAW adalah: اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الأَعْلَى (Ya Allah, Kekasih Yang Tertinggi).” [Riwayat al-Bukhari (4463)(6348)(6509) dan Muslim (2444)]

Selain itu, masalah yang berkaitan wasiat Rasulullah SAW sebelum baginda wafat, dinyatakan dalam kitab-kitab sirah, seperti:

وَأَوْصَىْ النَّاسَ، فَقَالَ: الصَّلَاةُ الصَّلَاة ُوَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانَكُمْ

Maksudnya: “Peliharalah shalat, peliharalah shalat dan hamba-hamba yang kamu miliki.”

Dalam hal ini, para ahli cenderung kepada hadits Aisyah Radliyallahu Anha, yaitu ucapan Nabi SAW yang terakhir sebelum Baginda SAW wafat adalah “اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الأَعْلَى (Ya Allah, Kekasih Yang Tertinggi)”.

Ini karena, Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim sepakat bahwa hadits atau riwayat tersebut itu adalah ucapan Nabi SAW.

Malah, ia diceritakan oleh Aisyah di mana baginda wafat, yaitu di rumahnya dan di atas pangkuannya. Disebabkan ini, Aisyah adalah orang yang paling layak untuk menceritakan kisah seperti ini.

Seperti yang dinyatakan, terdapat kisah yang mengatakan bahwa perkataan terakhir Rasulullah SAW adalah “Umatku, umatku, umatku”, namun ini adalah tidak benar karena tidak menemui sumber yang sahih.

Ucapan baginda berkenaan dengan laknat Allah terhadap Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid tersebut diucapkan baginda sebelum Rasulullah SAW mengucapkan

اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الأَعْلَى

(Ya Allah, Kekasih Yang Tertinggi).”

Tambahan pula, ucapan tersebut diceritakan oleh Aisyah R.A ketika Nabi SAW wafat di rumah dan di pangkuannya. Justeru itu, beliaulah yang lebih layak untuk menceritakan hal seperti ini.

Selain itu, dikatakan ucapan Nabi SAW yang terakhir adalah “umatku, umatku”, hal ini adalah tidak benar sama sekali karena tidak ditemui sumbernya yang sahih.

Adapun ucapan Nabi SAW berkaitan laknat Allah ke atas Yahudi dan Nasrani, yang menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid adalah diucapkan sebelum daripada Baginda SAW mengucapkan

اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الأَعْلَى

(Ya Allah, Kekasih Yang Tertinggi).”

Sehubungan dengan ini timbul pertanyaan: Mengapa tidak sesuai dengan hadits yang Rasulullah SAW ajarkan kepada kita, tentang kalimat untuk diucapkan sebelum meninggal dunia:

Dari Mu’adz bin Jabal, bahwa Nabi SAW bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Maksudnya: “Barangsiapa yang ucapan terakhirnya “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (Tidak ada Tuhan melainkan Allah).” (Riwayat Abu Daud (3116)) (sanadnya adalah hasan menurut Imam al-Nawawi)

Menurut hadits di atas, kita disuruh oleh Nabi Muhammad SAW untuk mengucapkan kalimah tauhid iaitu لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (Tidak ada Tuhan melainkan daripada Allah)” sebagai kata-kata terakhir di dunia.

Ini kerana siapa saja yang mengucapkan kalimat ini, maka dia mempunyai hak untuk dimasukkan ke dalam syurga.

Untuk menjawab perdebatan ini, kita memetik pendapat Al-Hafiz Imam Ibn Hajar al-Asqalani, beliau memetik mengutip pendapat Al-Suhaili yaitu antara hikmah Rasulullah SAW mengucapkan kalimah

اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الأَعْلَى

(Ya Allah, Kekasih Yang Tertinggi)”

sebelum menghembuskan nafas terakhir karena di dalamnya terkandung tauhid (yaitu meng-esa-kan Allah) dalam kandungan kalimah tersebut, dan kalimah tauhid itu diucapkan di dalam hati.

Al-Suhaili berkata munculnya kalimah ini yang terakhir baginda ucapkan adalah karena merujuk kepada kalimah tauhid serta berdzikir di dalam hati.

Ia memberikan keleluasaan kepada mereka yang tidak dapat berkata-kata sebelum meninggal dunia, karena mungkin tidak mampu mengucap dengan kuat tetapi itu tidak penting jika hati teguh dalam mengingati Allah.

Ini menunjukkan terdapat keringanan bagi orang lain bahwa tidak disyaratkan untuk mengucapkan kalimah tauhid secara lisan hingga terdengar (Fathul Bari, 138/8)

Kesimpulan

Dengan ini, sebagaimana  yang telah dijelaskan di atas, dapat ditegaskan bahwa kata-kata yang diucapkan oleh Rasulullah SAW adalah

اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الأَعْلَى

(Ya Allah, Kekasih Yang Tertinggi)”.

Hal ini tidak bertentangan dengan anjuran baginda tentang kalimah terakhir yang diajarkan kepada kita untuk diucapkan sebelum meninggal dunia.

Wallahu A’lam.

SesudahnyaSusunan Terbaru Pengurus Harian Takmir Masjid Al-Ukhuwwah
20 Sifat Allah yang Perlu Dihafalkan dan Dipahami
Salah satu bagian dari beriman kepada Allah, adalah mengetahui dan hafal terhadap sifat-sifat Allah. Sifat-sifat ini disebut sifat wajib bagi Allah. Bukan karena kita mewajibkan Allah memiliki sifat tersebut, tapi...
Teks Kitab Al-Hikam, Beserta Syarahnya
KITAB AL-HIKAM Karya Syaikh Ibnu ‘Athoillah As-sakandariy MUQODDIMAH بسم الله الرحمن الرحيم Segala puji bagi Allah, Tuhan yang mengisi [memenuhi] hati para wali [kekasih]-Nya dengan kasih sayang-Nya. Mengistimewakan jiwa mereka...
Sejarah Setiap Akhir Khutbah Jumat Khatib Membaca QS Surah An-Nahl 90
Pada tahun 717 M/99 H seorang penguasa Muslim yang kekuasaannya terbentang dari Kufah hingga Semenanjung Spanyol dan Afrika Utara bernama Umar bin ‘Abdul ‘Azîz (682-720 M/63-101 H) mengirim surat kepada...
Pemikiran Pascapandemi, Kebangkitan Pasca-Covid-19
Kita perlu melakukan penilaian sendiri (self-appraisal) secara jujur. Jangan mengecoh diri dengan rekayasa pencitraan yang membesar-besarkan pencapaian kecil. Kita bisa belajar dari pengalaman sejarah bangsa sendiri. Kebangkitan acap kali bertolak...
Strategi Dakwah Rasulullah Saw pada Era Berada di Madinah
Madinah menjadi sebuah ruang dakwah baru bagi Rasulullah SAW, setelah dakwah di Mekah terasa sempit bagi dakwah Rasulullah SAW dan umat Islam pada waktu itu. Berawal dari respon orang-orang Yatsrib...
Strategi Dakwah Rasulullah SAW pada Era Berada di Mekah
Nabi Muhammad SAW yang lahir di Mekkah dengan membawa misi mendakwahkan ajaran Islam mendapat tantangan yang berat dan menyakitkan. Kultur masyarakat yang ada pada waktu itu menganut keyakinan Paganisme (suatu...


TINGGALKAN KOMENTAR